Selasa, 27 Desember 2011


BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG MASYARAKAT UNTUK BERZIARAH KEKUBURAN MANDE RUBIAH
A.    Asal usul Mande Rubiah Menurut Masyarakat Lunang Silaut
Menjemput pertanyaan awal siapa Mande Rubiah dan siapa Bundo Kandung ? Sebenarnya dua nama dan orangnya satu, Bundo Kandung adalah nama ketika berada di Pagaruyung dan bernama Mandeh Rubiah setelah kembali ke kampung asal Air Pura termasuk Lunang.
Bundo kanduang si Raja Perempuan dulu itu yang kemudian bersemayam di Lunang dan masa tuanya berganti nama dengan nama Mande Rubiah. Nama Bundo Kanduang di sebut dalam kaba Cindua Mato sebagai gelar dari puti Tuo. Ia ibu kandung Dang Tuanku, tetapi juga menjadi ibu yang sempurna bagi anak tiri Cindua Mato, Dang tuangku dan Cindua Mato, dua saudara satu Ayah lain ibu ini tidak di beda-bedakan oleh Bundo Kandung.
Lebih dari itu Bundo Kanduang dianggap sebagai seorang guru dan pendekar Silat yang agung, menurunkan berbagai pelajaranSilat dan nilai-nilai jati diri seorang ksatria pendekar Minang Kabau  
Saat Minang kabau diperintah Bundo Kandung (Salareh Pinang Masak) kerajaan terancam kacau, kekacauan dipicu orang-orang yang dulu dipaksa mundur oleh Adityawarman yang ingin kembali memegang tampuk kekuasaan. Mereka diantaranya keturunan Dt.ketumanggungan dari Hulu Rawas yang kembali menuntut hak mereka sebagai keturunan tumenggung untuk menduduki tehta Kerajaan Minang Kabau



Kepercayaan masyarakat lunang silaut terhadap mande ribiah masih membekas sampai sekarang. Mereka teguh memegang tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, karena kalau melanggar petua-petua nenek moyang bisa membahayakan bagi negeri.
Mereka percaya bahwa tempat kuburan mande rubiah adalah kuburan bundo kanduang dan rombongannya. Masyarakat lunang silaut menyebut lokasi kuburan bundo kanduang adalah tempat kuburan mande rubiah.
Menurut H.dukun bujang sabaleh, sutan maruhum (pemelihara tambo mande rubiah) dapat diperoleh cerita mengapa bundo kanduang sampai kedaerah lunang silaut. Dalam pelarian dahulu kata Mande rubiah (bundo kanduang) sudah berada dikenagarian lunang silaut lebih kurang abad ke 13m. tetapi hal ini tidak diketahui oleh orang banyak kerena disamping tempat yang tersembunyi dan jauh dari orang banyak ini memeng sengaja tidak diberitahukan oleh ahli waris bundo kanduang tersebut. Tapi baru sejak tahun 1980 orang mulai mengetahui bahwa mande rubiah adalah keturunan kerajaan pagaruyuang karena pada tahun 1980 perintah daerah pesisir selatan meresmikan bahwa rumah gadang mande rubiah adalah sebagai tempat peninggalan sejarah minang kabau sedangkan orang yang mula-mula melakukan ziarah ke kompleks makam mande rubiah tidak didapat keterangan siapa pembawanya.
Dimana pada masa pemerintahan bundo kanduang yaitu dang tuanku adalah telah dipertunangkan dengan puti bungsu anak dari rajo mudo yang memerintah sebagai wakil kerajaan sikalawi rajo mudo adalah saudara bundo kanduang . jadi perkawinan ini adalah sangat cocok menurut pandangan masyarakat minang kabau yaitu perkawinan pulang ka bako. Disaat pertunangan itu sedang berlangsung dibuatlah isu oleh imbang jayo . seorang raja yang berkuasa dibagian timur kerajaan minang kabau yaitu sungai ngiang , imbang jayo memfitnah dang tuan ku tengah mengidap penyakit yang memalukan , oleh karena itu ia di asingkan ke sebuah sungai di tepi hutan raya. Setelah imbang jayo mendesak kepada rajo mudo supaya memutuskan pertunangan anaknya dengan dang tuanku dan kemudian puti bungsu ditunangkan dengan imbang jayo sendiri. Oleh karena desakan dan ancaman akhirnya rajo mudo terpaksa menyetujui dan mengambil imbang jayo sebagai menentu. Sedangkan puti bungsu sendiri tidak mau kawin dengan imbang jayo selain sifatnya kasar bentuknya jelek dan menakutkan serta akhlaknya banyak yang tercela.
Pada waktu keramaian yang diadakan oleh bendahara di sungai tarap bendahara adalah salah seorang dari ke empat mentri utama minang kabau anggota dari basa ampek balai) cindur mato telah mengetahuia desas-desus ini kemudian mengajak dang tuanku pulang untuk membicarakan masalah penghinaan ini dengan bundo kanduang besrta basa ampek balai. Hasil perundingan itu adalah bahwa cindur mato akan di utus ke Sikalawi membawa sibinuang, yaitu kerbau putih sakti sebagai hadiah perkawinan bagi puti bungsu secara diam-diam dang tuanku telah membuat rencana rahasia dengan cindua mato.
Saat diadakan pesta perkawinan antara imbang jayo dengan puti bungsu, cindur mato berhasil melaksanakan atau melakukan beberapa perbuatan keramat dan membuat kegaduhan-kegaduhan. Akibat dari  kegaduhan itu, cindur mato berhasil membawa lari puti bungsu kepadang ganting yaitu tepat kedudukan Tuan kadhi, menteri peradilan agama kerajaan pagaruyuang sementara itu imbang jayo yang merasa dirinya tertipu oleh perbuatan cindur mato, ia pergi kepagaruyuang untuk menuntut balas maka terjadilah peperangan antara pasukan imbang jayo denga tentara kerajaan pagaruyuang. Tentara kerajaan pagaruyuang terdesak oleh tentara imbang jayo yang dibantu oleh ayahnya Rajo tiang bungkuk. Melihat keadaan yang demikian itu bundo kanduang bersama dang tuanku, puti bungsu serta beberapa pengikut-pengikutnya melarikan diri dari pagaruyuang. Dalam pelarian ini rombongan bundo kanduang dapat menyelamatkan diri dan sampai ke lunang silaut kabupaten pesisir selatan. Ada juga orang yang mengatakan bahaw btujuannya ke lunang silaut adalah pergi ke tempat ayah dang tuanku sendiri untuk menghilangkan jejaknya dari kerajaan rajo tiang bungkuk. Maka segala yang berbau pagaruyuang (minang kabau) dihilangkan asama sekali nama bundo kanduang sendiri diganti dengan Mande rubiah yang berarti ibu dan rubiah berarti kanduang, dan model rumah yang bergonjong juga dihilangkan maka untuk tempat tinggal mereka mendirikan sebuah rumah gadang sebagai ganti istana yang tidak mempunyai gonjong dan sampai sekarang rumah gadant tersebut masih tetap ada, walaupun sudah beberapa kali mengalami pergantian atap.[1]
Di tempat pelarian inilah bundo kanduang, dang tuanku dan puti bungsu wafat, mereka diakamkan tidak jauh dari rumah gadang tersebut. Oleh keturunan mande rubiah yang ada di Lunang Silaut ini. Tempat pelarian bundo kanduang tersebut tetap mereka simpan dan dirahasiakan, tapi baru saat sekarang rahasia itu terbuka sejak pemerintah daerah pesisir selatan meresmikan rumah gadang tersebut sebagai tempat peninggalan sejarah minang kabau.
Adanya kompleks pemakaman Bundo kanduang dan rombongan, kompleks pemakaman bundo kanduang ini terletak sebelah timur dari rumah gadang mande rubiah, berjarak kira-kira 200 m. luas kompleks pemakaman tersebut adalah panjangnya 75m, lebarnya 50. Makam yang terdapat dalam komplek ini anatara lain:
  1. Makam bundo kanduang (mande rubiah yang pertama)
  2. Sebelah timur dari makam bundo kanduang terdapat makam dang tuanku
  3. Sebelah dari makam dang tuanku terdapat makam puti bungsu.
Pada deretan kedua dan ketiga terdapat emam buah makam, makam ini merupakan pengikut bundo kanduang
  1. Sebelah barat dari rumah mande rubiah terdapat sebuah masjid yang berukuiran kecil menurut keterangan ahli waris mande rubiah dalam masjid ini terdapat kuburan ibu dari cindua mato
  2. Kira-kira 20m sebelah barat masjid initerdapat makam cindua mato sendiri.[2]
Adanya rumah gadang dan benda-benda sejarah. Dirumah gadang mande rubiah terdapat satu tiang yang berair pada sebuah kamar yang mana air tersebut dijadikan buat obat. Disamping itu tersimpan ,juga segala macam warisan peninggalan dari mande rubiah yaitu berupa senjata-senjata tajam, macam-macam perhiasan, dulang berkaki, telur burung yang besar, Al-Qur’an yang bertulisan tangan, pakaian kebesaran dan lain-lain.
B.     Motivasi Masyarakat Berziarah ke kom.pleks Makam Mande rubiah
Kebudayaan menunjukkan derajat dan tingkat peradaban manusia, kebudayaan juga bisa menunjukkan ciri kepribadian manusia atau masyarakat pendukung kebudayaan, kebudayaan yang merupakan ciri kepribadian manusia, di dalamnya mengandung norma-norma, tatanan nilai atau nilai-nilai yang perlu dimiliki dan di hayati oleh manusia atau masyarakat pendukungnya. Penghayatan terhadap kebudayaan dilakukan melalui prose sosialisasi.[3]
Sebagaimana dijelaskan bahwa made rubiah adalah seorang wanita yang dikeramatkan di kecamatan lunag silaut. Walaupun ia sudah wafat namun kuburan dan rumah gadangnya serta mande rubiah yang sekarang tetap dihormatinya. Kuburan dan rumah gadangnya serta cucu-cucunya yang di anggap keramat tersebut, dijadikan tempat berdoa, bernazar dan lain-lain.
Adapun motivasi masyarakat berziarah, bermacam-macam antara lain:
  1. Ada yang minta obat atau azimat kepada mande rubiah agar terhindar dari segala macam penyakit atau mengobati penyakit yang sedang diderita.
  2. Para peziarah yang datang tersebut masih menganggap kuburan itu tetap keramat, karena kekeramatan mande rubiah sewaktu hidup sehingga tempat itu dijadikan tempat ziarah, berdo’a dan tempat bernazar
  3. Ada sebagian masyarakat yang datang ingin tahu dan membuktikan sejarah Mande Rubiah.
  4. Ada sebagian masyarakat mengatakan kalau melanggar tata tertib yang telah di tentukan oleh nenek moyangnya, maka mereka mendapat bahaya dengan tiba-tiba.
            Yang paling memotivasi masyarakat untuk berziarah adalah untuk membayar nazar, kalau kita melihat buku tamu yang ada pada rumah gadang mande rubuah peziarah yang berkunjung ke kompleks makam mande rubiah pada umumnya untuk membayarkan nazarjnya dan sebaian kecilnya peziarah yang datang untuk meminta obat dan sekedar ingin membuktikan sejarah mande rubiah. Itulah yang membedakan ziarah kemakam mande rubiah dengan ziarah ke makam lainnya.
                 Didalam pelaksannaa ziarah itu terdapat kegiatan yang berlebih-lebihan sebab sebagian pengunjung ada yang mengharapkan kekeramatannya baik diwaktu hidup maupun setelah ia wafat. Sehingga masyarakat lunang silaut beranggapan bahwa mwlalui rohnya permohonan mereka bisa sampaia kepada Allah. Mande rubiah pandai mengobati orang sakit, dan beliau juga dianggap keramat karena bisa menangkal bahaya yang akan menyerang penduduk setempat. Jadi untuk terhindar dari segala macam penyakit maka masyarakat lunang silaut datang kepada mande rubiah untuk meminta perlindungan dari beliau.
            Oleh karena kelebihannya itu maka orang-orang menganggapnya keramat. Bahkan sampai kepada keturunannya yang sekarang orang masih tetap menganggap keramat. Walaupun mande rubiah yang sekarang sudah keturunan yang ketujuh. Para pengunjung datang dari berbagai daerah dengan bermacam-macam tujuan. Ada yang berkunjung untuk membayar nazar, ada yang berharap supaya mendapat berkah dari mande rubiah dan rumah gadannya sebagai tempat bernazar.
C.     Perubahan Makna Ziarah Kubur dari waktu ke waktu
            Tradisi bukanlah suatu objek yang mati. Ia adalah alat yang hidup untuk melayani manusia yang hidup pula. Memang hanya ndalam rentangan waktu yang panjang kita baru dapat memahami dan menunjukkan bahwa tradisi juga sebenarnya berubah dan berkembang untuk mencapai tahap mantap pada zamannya. Oleh karena itu seharusnya tradisi dikembangkan sesuai dengan kehidupan. Untuk itu kita sebagai ahli waris kebudayaan selalu dituntut untuk berani mengadakan perubahan perubahan terhadap tradisi


BAB V
TRADISI ZIARAH KUBUR MANDE RUBIAH

A.    Persepsi Masyarakat Tentang Tempat Kuburan Mande Rubiah
Tradisi adalah kebiasaan turun temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku. Baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib atau keagamaan. Di dalam tradisi diatur bagaimana manusia berhubungan dengan manusia yang lain, bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungannya dan bagaimana manusia bertingkah laku dengan alam yang lain. Melanggar tradisi berarti melanggar ketentuan bahkan melanggar kepercayaan yang berlaku di dalam masyarakat tersebut.[4]
Demikian pula halnya di kecamatan Lunang Silaut agama yang datang ke daerah tersebut yang pertama kalinya adalah agama hindu dan budha, sehingga dalam pelaksanaan agama mereka masih dipengaruhi oleh kebudayaan hindu budha, misalnya dalam berdo’a mereka masih memakai kemenyan.
Setelah islam masuk keminang kabau pada abad ke-18m dan mulai menyebar awal abad ke-13 m13, masyarakat Lunang Silaut menerima agama islam dengan bukti tidak ada satupun masyarakat lunang silaut yang tidak beragama islam. Namun keislaman itu masih di pengaruhi oleh kebiasaan mereka sebelum islam. Kepercayaan animism dan di namisme masih membekas dalam kepercayaan mereka, seperti mempercayai adanya roh-roh yang dapat menolong manusia. Dalam hal ini dapat kita lihat kepercayaan masyarakat lunang silaut terhadap makam mande rubiah.
Kalau kita tinjau kehidupan sehari-hari masyarakat lunang silaut pada umumnya bertani dan fanatik terhadap agama dan tidak mau dipengaruhi oleh agama yang baru yang baru datang ke daerah tersebut . Dalam pelaksanaan agama mguh asyarakat lunang silaut selalu menjalankan ajarannya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.
Demikian pula halnya di kecamatan Lunang Silaut agama yang datang ke daerah tersebut yang pertama kalinya adalah agama Hindu dan Budha, sehingga dalam pelaksanaan agama mereka masih dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu Budha, misalnya dalam berdo’a mereka masih memakai kemenyan.
Setelah Islam masuk ke Minang kabau pada abad ke-18m dan mulai menyebar awal abad ke-13 m13, masyarakat Lunang Silaut menerima agama Islam dengan bukti tidak ada satupun masyarakat lunang silaut yang tidak beragama Islam. Namun keislaman itu masih di pengaruhi oleh kebiasaan mereka sebelum Islam. Kepercayaan animisme dan di dinamisme masih membekas dalam kepercayaan mereka, seperti mempercayai adanya roh-roh yang dapat menolong manusia. Dalam hal ini dapat kita lihat kepercayaan masyarakat lunang silaut terhadap makam mande rubiah.
Kalau kita tinjau kehidupan sehari-hari masyarakat lunang silaut pada umumnya bertani dan fanatik terhadap agama dan tidak mau dipengaruhi oleh agama yang baru yang baru datang ke daerah tersebut . Dalam pelaksanaan agama mguh asyarakat lunang silaut selalu menjalankan ajarannya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.
Demikian pula halnya di kecamatan Lunang Silaut agama yang datang ke daerah tersebut yang pertama kalinya adalah agama Hindu dan Budha, sehingga dalam pelaksanaan agama mereka masih dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu Budha, misalnya dalam berdo’a mereka masih memakai kemenyan.
Setelah Islam masuk ke Minang kabau pada abad ke-18m dan mulai menyebar awal abad ke-13 m13, masyarakat Lunang Silaut menerima agama Islam dengan bukti tidak ada satupun masyarakat lunang silaut yang tidak beragama Islam. Namun keislaman itu masih di pengaruhi oleh kebiasaan mereka sebelum Islam. Kepercayaan animisme dan di dinamisme masih membekas dalam kepercayaan mereka, seperti mempercayai adanya roh-roh yang dapat menolong manusia. Dalam hal ini dapat kita lihat kepercayaan masyarakat lunang silaut terhadap makam mande rubiah.
Kalau kita tinjau kehidupan sehari-hari masyarakat lunang silaut pada umumnya bertani dan fanatik terhadap agama dan tidak mau dipengaruhi oleh agama yang baru yang baru datang ke daerah tersebut . Dalam pelaksanaan agama mguh asyarakat lunang silaut selalu menjalankan ajarannya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.




DAFTAR PUSTAKA
 Al-Qur’an dan Terjemah, Bandung: CV Diponegoro, 2000
Bin fauzan, Shalih, Fauzan Abdullah.KitabTauhid I Penerjemah Ainul  Haris Arifin. Yogyakarta:Akafa Press,1998
Bin fauzan, Shalih Fauzan Abdullah. Kitab Tauhid 3 penerjemah Ainul Haris Arifin. Jakarta: Darul Haq, 1999
Bin Abdurrahman Al-Jibrin, Syaik Abdullah,  As-Sunnah fi ziyaratil qubur wat-tahdzir min bida’il maqabir, (diterbitkan oleh kantor  kerjasama dakwah, bimbingan dan penyuluhan Imigran, Sulthanah Arab Saudi)
Bin’ Abdu ‘I-wahhab, Syaikh Muhammad, Risalah Tauhid. Terjemahan Rifyal ka’bah, M.A., Minaret: Jakarta. 1988
Djaelani, Abdul Qodir. Asas dan Tujuan Hidup Manusia Menurut Ajaran Islam. Surabaya: PT Bina Ilmu, 1996
Esde Erni, Dkk.  Upacara Perkawinan Di Lunang Kabupaten Pesisir Selatan, Padang: Pemerintah Daerah Sumatera Barat Dinas Pariwisata Seni dan Budaya, 2005.
Herwandi, Dkk, Rakena. Mande Rubiah Penerus Kebesaran Bundo Kandung Dalam Penggorogotan Tradisi. Padang : Museum Aditiawarman, Dinas Perseni Budaya Propinsi Sumatera Barat, Dinas Perseni Budaya Kabupaten Pesisir Selatan, 2004
  Ilyas, Yunahar. Kuliah Aqidah Islam.Yogyakarta: Lembaga pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI), 1992
Junus, Mahmudi. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Terjemah/Penafsiran Al-Qur’an,1972
Kumpulan Peraturan Kabupaten Pesisir Selatan : Profil Nagari Lunang 2010
Mursal,Esten. Minang Kabau antara Tradisi dan Perubahan. Padang: Angkasa Raya, 1993
Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah 4, Bandung : PT Alma’arif, Cet I.1978
Shabir, Muslich. Akidah Islam Menurut Ibnu Taimiyah. Bandung,1983
Subhani, Syaik Jafar. Tauhid dan Syirik. Terjemahan: Muhammad al-Baqir. Muasasah al-fikral-Islam, Mizan: Bandung, 1985
Soejono, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984
Susilowati, Nenggih, Ketut Wiradnyana, Lucas P.Koestoro, Peninggalan Arkeologis di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dalam Berita Penelitian Arkeologis no.3, Medan: Balai Arkeologi Medan, 2000
SK Bupati Pesisir Selata Nomor 141/151/Bpt-ps/2002 : Pengengkatan Walinagari Lunang, 2002.
 Taimiyah, Ibnu. Kemurnian Akidah. Terjemahan: Halimuddin, S.H. Judul Asli: Tawasul wal Wasilah. PT. Bumi Aksara: Jakarta. Cet II. 1992 
 Tim Ahli Tauhid, Kitab Tauhid 2 Penerjemah Agus Hasan Bashori.Jakarta:Darul Haq,1998
Yunus Yulizal, Dkk. Kesultanan Inderapura dan Mande Rubiah Di Lunang, Spirit Sejarah Dari Kerajaan Bahari Hingga Semangat Melayu Dunia, Painan ; Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, IAIN-IB Press, 2002




[1] H.Dukun Bujang Sabaleh, Sutan Maruhum, Wawancara Pribadi tanggal 21 november 2010 di inderapura
[2] Nagih susilowatiberita penelitian Arkeologi (Medan, Departemen pendidikan dan kebudayaan)h.15
[3] Koentjaraningrat, Metode-metode Antropologi Dalam Penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1980)hal.2117
[4] 12 Prof. Dr. Mursal Esten, Minangkabau Antara tradisi dan perubahan, (Padang : Angkasa Raya 1993), hal.11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar